18
Jan
15

Tiga Tujuh Delapan

Setahun sudah, tepatnya tiga ratus tujuh puluh delapan hari sudah blog saya ini terbengkalai tiada terurus. Berdalih tiada sempat bikin tulisan karena sok sibuk mengurus negara yang tak kunjung mapan, si pemilik modal mengahaturkan mohon ampun yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang menantikan update blok ini maupun yang tidak pernah menantikan update blog ini sama sekali. Meskipun masih jauh dari hari raya idul fitri, sekali lagi pemilik modal tetap menghaturkan mohon maaf lahir dan batin atas ketidaknyamanan yang berlangsung. Semoga setelah hari ini di update, si pemilik modal segera insyaf dan rajin membikin tulisan meskipun tiada bermutu dan tiada menambah ilmu. Akhirul kalam, salam peace love and gaul.:mrgreen:

07
Jan
14

Perjalanan

Dalam sebuah perjalanan menuju ibukota, saya berkesempatan menaiki kereta yang start keberangkatannya pada waktu pagi hari. Jadi saya bisa menikmati indahnya perkampungan dan perbukitan yang hijau menguning di sebelah kanan kaca jendela tempat saya duduk. Sebuah keberuntungan pula, saya mendapat nomor kursi yang ada embel-embel huruf D-nya, setidaknya jikalau mengantuk saya bisa menyandarkan kepala saya ke kaca jendela, tentu saja berbantal fasilitas yang diberikan dari pete kaai yakni berupa bantal mungil bersarung.😆
Continue reading ‘Perjalanan’

14
Jul
13

Sarasehan Budaya: Istimewakah Yogya?

Purawisata menggelar diskusi Sarasehan Budaya bersama Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA, M.Phil, Emha Ainun Nadjib, Dr. dr. Ulla Nuchrawaty, Toto Raharjo, dan Indra Tranggono yang bertindak sebagai host pada Minggu siang (7/7) di Ayodya Room Gazebo Garden Restaurant, Purawisata Yogyakarta.

Ipeh_1
Continue reading ‘Sarasehan Budaya: Istimewakah Yogya?’

27
Jun
13

Siap, Nggak, Siap, Nggak Siap?

Syahdan mentari pagi ini tampak cerah. Meskipun tidak secerah iklan putih cemerlang detergen-detergen yang ada di tipi-tipi, namun kilaunya mampu menggerakkan saya untuk melangkahkan kaki sekadar jalan-jalan menambah vitamin D. Seperti yang kita ketahui, sebelum pukul 9 pagi, kan, sang mentari masih bagi-bagi vitamin D gratis, jadi ya, mumpung gratis sebaiknya kita manfaatkan; niscaya, tidak akan ada dosa.

Saya kadang membawa kamera saya yang saya beri judul Casanova ketika jalan-jalan. Sekalian mengasah kemampuan saya di bidang fotografi, sekaligus mencoba mencari peruntungan. Siapa tahu saya nanti dapat moment bagus, lalu saya jepret, njuk saya upload gambarnya di Facebook, dan saya pun dapat komentar dan like dari facebookers, lumayan kan? Biasa aja, sih.
Continue reading ‘Siap, Nggak, Siap, Nggak Siap?’

11
Jun
13

Manut?

Doeloe. Mungkin di bilangan tahun 2008-2009, kami (bukan Kesatuan Aksi Mahasiswa (Muslim) Indonesia) sering menyelenggarakan acara makan malam bersama setelah rapat tentang agenda-agenda Himakom atau pun seusai beraktivitas di Himakom yang kebanyakan menyita waktu dan tiada menambah ilmu; semacam bermain poker, mengobrol, tidur dan atau klekaran, menulis di bucur a.k.a buku curhat, mengerjakan tugas—yang ini tidak jadi bermutu dan menambah ilmu karena dikerjakan di Himakom, menghabiskan bandwidth dengan mendownload film yang banyak adegan sarunya—yang ini khusus laki-laki, sampai kegiatan rutin saling ejek-mengejek antar anggota sedari angkatan 2002 hingga 2008 (waktu itu angkatan 2009 masih newbie). Dengan terpaksa kita mengikuti tren saling ejek itu, karena jika tidak mau diejek konsekuensi nya akan mendapatkan sanksi sosial berupa dikucilkan.
Continue reading ‘Manut?’

08
May
13

Mengintip Lukisan Seniman Pantura

Setiap pulang ke rumah, saya selalu melewati sebuah bangunan yang sudah dikenal masyarakat sebagai Bentara Budaya Yogyakarta. Bukan suatu kebetulan kalau saya sering melewatinya, karena memang untuk menuju tempat di mana saya tinggal jikalau saya habis menuntut ilmu (baca: kuliah), akses terdekat, ya, saya harus melewati Bentara Budaya. Hal ini malah menjadi suatu keberuntungan buat saya. Pasalnya, tanpa saya harus mencari tahu tentang info pameran-pameran yang sedang atau akan berlangsung, saya bisa langsung datang melihat-lihat dengan fasilitas parkir gratis di Bentara Budaya. Semua itu karena Bentara Budaya ini sudah menjadi langganan venue para kurator dan seniman untuk memamerkan hasil karya mereka. Dapat dipastikan hampir tiap hari selalu ada pameran.

Jadi, kalau saya lewat di depan Bentara Budaya tinggal tengok ke arah kiri, jika ada spanduk terpampang bertuliskan “Pameran bla bla bla” dengan segera saya akan parkirkan kendaraan saya dengan dalih sekadar melihat-lihat benda atau kanvas-kanvas yang digantung berjajar membisu yang hampir memenuhi dinding ruangan. Karya-karya yang dipamerkan biasanya bertajuk seni rupa ataupun seni kriya, mulai dari lukisan, patung, pahatan, sampai pada seni fotografi. Tak hanya itu, setahu saya setiap Senin malam, di Bentara Budaya selalu menyediakan hiburan gratis dengan mewadahi sebuah acara bertajuk nge-jazz bareng yang dapat dinikmati pecinta musik jazz maupun masyarakat sekitar pada umumnya. Bahkan tak jarang kita bisa menikmati makanan kecil dan minuman ala angkringan khas Yogyakarta yang disuguhkan secara cuma-cuma alias gratis. Syukur, memang sungguh enak hidup di Jogja itu, tidak salah jika Jogja dibilang berhati nyamnyam nyaman.
Continue reading ‘Mengintip Lukisan Seniman Pantura’

06
May
13

65

Hari ini—masih 6 Mei—tak terasa tepat tiga tahun telah berlalu. Berawal dari sebuah peristiwa tiga tahun yang lalu. Peristiwa yang akan diketahui kukenang sebagai kisah tentang seorang lelaki paruh baya dan kisah dua insan yang tiada pasti sedang memadu kasih. Satu kesamaan diantara keduanya. Berakhir.